Terobosan dalam Pengobatan Spondilitis Ankilosa
refrakter AINS Menggunakan Protokol John Darmawan (
JDP).
Remisi dengan menggunakan terapi oral dan intravena
dicapai setelah 2-4 bulan sejak dimulainya JDP.
Remisi yang didukung dengan obat oral dicapai setelah
5.5-7.5 bulan sejak dimulainya JDP.
Remisi tanpa obat diperoleh setelah 3.5-4.5 tahun sejak
dimulainya JDP.
Spondilitis ankilosa (SA) adalah suatu penyakit kronis
dan progresif jangka panjang yang sebagian besar
melibatkan sendi aksial. SA refrakter AINS ditegakkan
ketika terjadi kegagalan dengan sedikitnya dua obat anti
inflamasi non steroid (AINS) selama satu periode
pengobatan tiga bulan.
JDP adalah sebuah Protokol Step-Down Bridge Kombinasi 6
Imunosupresan Oral dan Intravena. JDP diterapkan
manakala: diagnosis SA refrakter AINS ditegakkan; BATH
AS Disease Activity Index ( BASDAI) sedikitnya 4 setelah
periode sedikitnya 4 minggu; ESR> 40 mm per jam
Westergren; CRP> 3 mg%.
Prinsip JDP adalah untuk mencapai Remisi dalam periode
waktu yang sesingkat mungkin, sebelum Bath AS
Radiological Index (BASRI) 2 atau lebih. Dengan
pemberian harian kombinasi 4 Imunosupresan intravena
secara intensif maka kondisi remisi dicapai. 4
Imunosupresan intravena meliputi Cyclophosphamide,
5-Flurouracil, Methylprednisolone, dan Methotrexate.
Remisi dengan penggunaan terapi intravena dan oral
diperoleh setelah 2-4 bulan sejak dimulainya JDP.
Pencapaian remisi didukung oleh pemberian kombinasi 2-3
Imunosupresan oral, ketika terapi intravena dikurangi
secara bertahap setelah 5.5-7.5 bulan sejak awal
pengobatan. Keadaan ini disebut Remisi dengan Obat oral.
Terapi oral diawali bersamaan dengan terapi intravena
untuk dosis inisial. Terapi oral akan berhasil mencapai
kadar serum efektif dalam mempertahankan ESR kurang dari
20 mm per jam ketika terapi intravena dikurangi secara
bertahap.
Terapi oral terdiri dari Mycophenolate Mofetil dan
Methotrexate/Cyclosporine dan harus terus dilanjutkan
selama sedikitnya 2 tahun. Setelah 2 tahun dalam kondisi
remisi, obat oral dikurangi secara bertahap dalam masa 1
tahun. Jika tidak terjadi flare setelah obat oral
dikurangi secara bertahap maka kondisi Remisi tanpa Obat
dicapai pada SA refrakter AINS setelah 3.5-4.5 tahun
sejak dimulainya JDP.
Flare ditegakkan ketika artritis muncul kembali pada 1
atau lebih sendi, ESR menjadi abnormal (lebih dari 25 mm
per jam), dan BASDAI menjadi lebih dari 1. Flare tahap
awal (dalam waktu 1 minggu) pada SA refrakter AINS harus
segera ditekan dengan pemberian JDP kembali guna
mempertahankan kondisi remisi jangka pendek, medium, dan
panjang.
Untuk mencapai remisi dengan menggunakan terapi
intravena dan oral, JDP harus diberikan setiap hari, 5
kali seminggu hingga ESR turun menjadi kurang dari 40 mm
per jam. Cara ini bertujuan menghindari dosis kumulatif
mingguan yang mengakibatkan terjadinya efek tak
diinginkan
Setelah ESR turun hingga kurang dari 40, 30, dan 25
mm/jam (laki-laki< 30,< 20, dan< 15 mm), sesi IV
dikurangi menjadi 3X, 2X, dan 1X dalam seminggu secara
bertahap. Ketika ESR< 20 (wanita) atau< 10 mm
(laki-laki) berarti penyakit telah terkontrol. Ketika
penyakit telah terkontrol, sesi IV diturunkan bertahap
menjadi satu kali per dua mingguan (dilanjutkan dengan
mengganti cara IV dengan Methotrexate oral dosis
ekuivalen satu kali seminggu), empat mingguan, delapan
mingguan dan kemudian diakhiri menjadi Remisi dengan
Obat oral.
Berbagai jadwal untuk mencapai berbagai jenis remisi
1. Induksi remisi selama 1-2 bulan setelah dimulainya
JDP
2. Pengurangan sesi IV mingguan selama 1-2 bulan
3. Remisi dicapai setelah 2-4 bulan
4. Pengurangan secara bertahap (tapering off) sesi
intravena setelah 3.5- 5.5 bulan sejak dimulainya JDP
5. Remisi dengan obat oral setelah 5.5-7.5 bulan sejak
dimulainya JDP
6. Konsolidasi Remisi dengan penggunaan obat oral selama
2 tahun
7. Pengurangan obat oral secara bertahap selama satu
tahun
8. Remisi tanpa Obat dicapai setelah 3.5- 4.5 tahun
termasuk Remisi Radiologis sejak dimulainya JDP.
Remisi tanpa obat bukanlah suatu kesembuhan bagi SA
refrakter AINS. Flare dapat terpicu oleh tekanan fisik
dan mental, infeksi virus.
Efek tak diinginkan dari 6 Imunosupresan tertulis pada
selebaran di dalam paket obat. Neupogen, Recormon, dan
kombinasi Epineprine+Methylprednisolone dapat
menyebabkan toksisitas darah dalam suatu periode yang
relatif singkat. Toksisitas gastrointestinal seperti
anoreksia, mual, muntah, diare, termasuk alergi dapat
diobati dan dicegah oleh Kytril, spasmolitik, dan anti
alergi.
Toksisitas darah yang menakutkan seperti kurangnya
junlah sel darah putih, sel darah merah, dan trombosit
dapat dihindarkan dengan pemberian imunosupresan
intravena harian dosis rendah dan total frekwensi
pemberian yang rendah, pembatasan dosis mingguan dan
kumulatif total, serta pembatasan periode paparan.
Termasuk ke dalam kategori Imunosupresan-naif total
adalah pasien yang belum pernah diberi pengobatan dengan
Cyclophosphamide, 5-Flurorouracil, Methylprednisolone,
Methotrexate, dan Mycophenolate Mofetil, dan
Cyclosporine. Imunosupresan-naif parsial adalah pasien
yang pernah diberikan pengobatan dengan beberapa obat
dari 6 Imunosupresan. Imunosupresan non-naif total
adalah pasien yang telah diberikan semua jenis obat dari
6 Imunosupresan sebagai contoh ketika flare terjadi.
Kondisi naif dan non-naif ini mempunyai dampak terhadap
hasil terapi JDP.
Cyclophosphamide, 5-Fluorouracil, dan Methylprednisolone
tidak diberikan dengan cara oral karena:
|
Pemberian intravena |
versus
|
Pemberian oral |
Efikasi lebih cepat
Efikasi maksimum
Efek bertahan lebih lama
Efek tak diinginkan minimum |
|
Efikasi lebih lambat
Efikasi minimum
Efek bertahan lebih singkat
Efek tak diinginkan maksimum |
Efek ta diinginkan hematologis sangat jarang ditemui,
namun efek gastrointestinal ringan terjadi pada 25%
pasien yang diobati dengan JDP. Hal ini dapat dengan
mudah diatasi atau dicegah.
Email This Page
Print
This Page
|
|
| |
NEWS & EVENTS
LupusArthritisIndonesia.org - Indonesian Lupus & Arthritis Forum
16.11.2005
MabThera – a unique approach providing lasting
benefits for patients with rheumatoid arthritis
Comprehensive long-term clinical success achieved in
difficult-to-treat patients following just two
administrations, two weeks apart
›
more
|
|
 |
| |
LupusArthritisIndonesia.org - Indonesian Lupus & Arthritis Forum
06.09.2005
Roche files first rheumatoid arthritis indication for
MabThera in Europe
MabThera: a medicine used to treat non-Hodgkin's
lymphoma
MabThera delivers significant and sustained relief from
symptoms in patients with difficult-to-treat rheumatoid
arthritis.
›
more
|
|
 |
| |
LupusArthritisIndonesia.org - Indonesian Lupus & Arthritis Forum
06.04.2005
MabThera significantly improves symptoms in patients
with rheumatoid arthritis who inadequately responded to
anti-TNFα therapies
Third large randomised trial to evaluate efficacy and
safety of MabThera in RA
Roche, Genentech and Biogen Idec announced today that
REFLEX1, a pivotal Phase III study of MabThera (rituximab), successfully met its
primary endpoint in the group of patients with the most difficult-to-treat
rheumatoid arthritis (RA).
›
more
|
|
 |
Legal Disclamer
|
Legal Disclaimer
Copyright
©WHO-ILAR COPCORD Stage II Education on Treatment of the Autoimmune
Diseases.
This Web site was developed in 2005 as a service provided by the
WHO-ILAR COPCORD Stage II Education on Treatment of the Autoimmune
Diseases. This Web site provides selected information available
about lupus and arthritis. It is important that public see a
healthcare professional for detailed information about medical
conditions and treatment. This information is not intended to be a
substitute for the advice of a healthcare professional, or a
recommendation for any particular treatment plan. The WHO-ILAR
COPCORD Stage II Education on Treatment of the Autoimmune Diseases
has made and will continue to make efforts to include accurate and
up-to-date information on this Web site.
If you have any
questions, please contact us:
Webmaster
Phone: 62-24-8447-345
Fax: 62-24-8310-028
admin@LupusArthritisIndonesia.org
|
|