Terobosan dalam Pengobatan Nefritis Lupus
Menggunakan Protokol John Darmawan (JDP)
Remisi dengan menggunakan terapi intravena dan oral
dicapai setelah 2-4 bulan JDP inisial.
Remisi yang didukung oleh obat oral dicapai setelah
5.5-7.5 bulan sejak dimulainya JDP.
Remisi tanpa obat diperoleh setelah 3.5-4.5 tahun sejak
dimulainya JDP
Lupus Eritematosus Sistemik (Systemic Lupus
Erythematosus [SLE]) atau pada umumnya disebut Lupus
adalah suatu penyakit otoimun yang penyebabnya tak
diketahui dan memiliki manifestasi yang berbeda-beda.
Riwayat tingkat survival 5 tahun sebelum tersedianya
Prednisone atau derivatnya: tingkat survival 5 tahun
adalah sekitar 15% di negara dunia ketiga dan 50% di
negara dunia kesatu dan kedua.
Manakala Lupus tidak dikendalikan secara adekuat dengan
obat-obatan, Nefritis akan timbul setelah 2-4 tahun dan
disebut Nefritis Lupus. Dan bila Nefritis Lupus tidak
diberi pengobatan secara adekuat maka ia berpotensi
fatal.
Dengan tersedianya Cyclophosphamide dan Azathioprine (
Imunosupresan) yang dikombinasikan dengan Prednisone
maka tingkat survival 5 tahun ditingkatkan menjadi
sekitar 60% di negara-negara Selatan dan 80-90% di
negara-negara Utara.
Tujuan dari terapi adalah untuk mencapai Remisi. Remisi
dapat diukur dengan menggunakan 1 dari 6 ukuran hasil
yang disahihkan. JDP menerapkan Skor Systemic Lupus
Activity Measures (SLAM). Manakala Skor SLAM kurang dari
1 dan Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) kurang dari
20 mm per jam maka pasien berada dalam kondisi Remisi.
Skor SLAM mengukur manifestasi penyakit pada hampir
semua organ pasien penderita Lupus.
JDP adalah suatu Protokol Step-Down Bridge dari
Kombinasi 6 Imunosupresan baik berupa Intravena dan
Oral. Protokol ini diterapkan pada pasien dengan Biopsi
Ginjal Kelas III, IV, dan V. Nefritis Lupus dengan WHO
Kelas I, II, dan VI tidak diresepkan JDP tersebut. Kelas
I dan II tidak memerlukan JDP untuk terapi. Kelas VI
bersifat irreversibel apapun perawatan yang diberikan.
Kelas VI berkembang secara bertahap menjadi gagal ginjal
total dengan dialisis dan ancaman kematian oleh infeksi.
Prinsip JDP adalah untuk mencapai keadaan Remisi dalam
periode yang sesingkat mungkin, sebelum terjadi biopsi
ginjal kelas VI atau Indeks Kronisitas yang memburuk
menjadi lebih dari 5. Dengan pemberian kombinasi 4
Imunosupresan intravena harian yang intensif maka
kondisi remisi dicapai. 4 Imunosupresan intravena
meliputi Cyclophosphamide, 5-Flurouracil,
Methylprednisolone, dan Methotrexate.
Remisi dengan terapi intravena dan oral diperoleh
setelah 2-4 bulan sejak awal pengobatan. Albumin urin 24
jam (albumin dalam urin) menjadi negatif atau Mikro
Albumin mencapai nilai normal setelah periode 2-4 bulan.
Pencapaian remisi didukung oleh pemberian kombinasi 2
Imunosupresan oral, ketika terapi intravena dikurangi
secara bertahap (tapered off) setelah 5.5-7.5 bulan
sejak awal pengobatan. Ini disebut remisi dengan obat
oral. Terapi oral dimulai bersamaan dengan pemberian
inisial terapi intravena. Terapi oral akan berhasil
mencapai kadar serum efektif dalam mempertahankan ESR
kurang dari 20 mm per jam ketika terapi intravena
dikurangi secara bertahap.
Terapi oral terdiri dari Mycophenolate Mofetil dan
Methotrexate/Cyclosporine dan harus terus digunakan
selama sedikitnya 2 tahun. Setelah 2 tahun dalam kondisi
remisi, obat oral berangsur-angsur dikurangi (tapred
off) selama masa 1 tahun. Jika tidak timbul flare
setelah pengurangan obat oral maka remisi tanpa obat
telah dicapai pada penyakit Nefritis Lupus setelah
3.5-4.5 tahun sejak dimulainya JDP.
Flare ditegakkan ketika Skor SLAM meningkat lebih dari 1
dan ESR menjadi abnormal ( lebih dari 25 mm per jam).
Flare tahap awal (dalam 1 minggu) pada Nefritis Lupus
harus segera ditekan dengan cara pemberian kembali JDP
untuk mempertahankan remisi jangka pendek/singkat,
medium, dan panjang.
Agar dicapai kondisi remisi dengan terapi intravena dan
oral maka JDP harus diberikan setiap hari, 5 kali
seminggu sampai ESR turun menjadi kurang dari 40 mm per
jam. Cara ini dilakukan untuk menghindari dosis
kumulatif mingguan yang menyebabkan terjadinya efek tak
diinginkan.
Setelah ESR turun hingga kurang dari 40, 30, dan 25
mm/jam (laki-laki< 30,< 20, dan< 15 mm), sesi IV
dikurangi menjadi 3X, 2X, dan 1X seminggu secara
bertahap. Ketika ESR< 20 (wanita) atau< 10 mm
(laki-laki) berarti penyakit telah terkontrol. Ketika
penyakit telah terkontrol, sesi IV diturunkan bertahap
menjadi satu kali per dua mingguan (dilanjutkan dengan
mengganti IV dengan Methotrexate oral dosis ekuivalen
satu kali seminggu), empat mingguan, delapan mingguan
dan kemudian diakhiri menjadi Remisi dengan Obat oral.
Berbagai jadwal dalam mencapai berbagai jenis remisi
1. Induksi remisi selama 1-2 bulan setelah pemberian
inisial JDP
2. Pengurangan sesi IV mingguan selama 1-2 bulan
3. Remisi dicapai setelah 2-4 bulan
4. Pengurangan secara bertahap (tapering off) sesi
intravena setelah 3.5- 5.5 bulan sejak dimulainya JDP
5. Remisi dengan obat oral setelah 5.5-7.5 bulan sejak
pemberian inisial JDP
6. Konsolidasi Remisi dengan penggunaan obat oral di
atas 2 tahun
7. Pengurangan obat oral bertahap selama satu tahun
8. Remisi tanpa Obat dicapai setelah 3.5- 4.5 tahun
termasuk Remisi Radiologis sejak pemberian inisial JDP.
Remisi tanpa obat bukanlah suatu kesembuhan bagi
Nefritis Lupus. Flare dapat terpicu oleh tekanan fisik
dan mental, cahaya matahari, infeksi virus, dan setelah
melahirkan bayi.
Efek tak diinginkan dari 6 Imunosupresan tertulis pada
selebaran di dalam paket obat. Neupogen, Recormon, dan
kombinasi Epineprine+Methylprednisolone dapat
menyebabkan toksisitas darah dalam suatu periode yang
relatif singkat. Toksisitas gastrointestinal seperti
anoreksia, mual, muntah, diare, termasuk alergi dapat
diobati dan dicegah.
Toksisitas darah yang menakutkan seperti kurangnya
junlah sel darah putih, sel darah merah, dan trombosit
dapat dihindarkan dengan dosis rendah harian
imunosupresan intravena dan total frekwensi pemberian
yang rendah, pembatasan dosis mingguan dan kumulatif
total, serta pembatasan periode paparan.
Indeks Kronisitas Lupus Nefritis dari Institut Nasional
Kesehatan, Bethesda, Maryland, Amerika Serikat,
memerlukan perhitungan yang canggih dan kompleks. Ketika
Indeks Kronisitas menjadi lebih dari 5, menandakan bahwa
Nefritis Lupus tidak dapat mencapai remisi.
Indeks Prognosis Lupus adalah suatu alat sederhana yang
digunakan oleh JDP untuk menandai ketika prognosisnya
adalah meragukan. JDP akan gagal manakala Indeks
Prognosis Lupus adalah 6 atau lebih (Indeks Kronisitas
adalah 6 atau lebih).
Indeks Prognosis Lupus
Lupus atau SLE dengan sendirinya memiliki Indeks
Prognosis 2 plus 1 atau seterusnya, sebagai berikut.
Masing-Masing berikut ini memiliki Indeks Prognosis 1
1. Dermatitis Lupus
2. Pleuritis dengan efusi Lupus
3. Perikarditis dengan efusi Lupus
4. Nefritis Lupus (biopsi ginjal Kelas WHO< 6)
Masing-Masing berikut ini memiliki Indeks Prognosis 2
1. Sindrom Nefrotik
2. Profundus Lupus
3. Pulmonum Lupus
4. Vaskulitis Lupus (Lupus seebral dengan stroke)
5. Lupus Avaskular Osteonekrosis sendi
6. Neuropsikiatrik Lupus
7. Miokarditis Lupus
Ketika seorang pasien didiagnosis dengan SLE dan
Nefritis Lupus maka Indeks Prognosisnya adalah 4. Dengan
tambahan efusi perikardial maka Indeks Prognosis Lupus
adalah 5 dan masih bisa diobati dengan JDP. Akan tetapi,
manakala Indeks Prognosis Lupus adalah 6 atau lebih maka
JDP memiliki kemungkinan gagal contohnya SLE+ Pulmonum
Lupus + Vaskulitis Lupus.
Termasuk ke dalam kategori Imunosupresan-naif total
adalah pasien yang belum pernah diberi pengobatan dengan
Cyclophosphamide, 5-Flurorouracil, Methylprednisolone,
Methotrexate, dan Mycophenolate Mofetil, dan
Cyclosporine. Imunosupresan-naif parsial adalah pasien
yang pernah diberikan pengobatan dengan beberapa obat
dari 6 Imunosupresan. Imunosupresan non-naif total
adalah pasien yang telah diberikan semua jenis obat dari
6 Imunosupresan sebagai contoh ketika flare terjadi.
Kondisi naif dan non-naif ini mempunyai dampak terhadap
hasil terapi JDP.
Cyclophosphamide, 5-Fluorouracil, dan Methylprednisolone
tidak diberikan dengan cara oral karena:
|
Pemberian intravena |
versus
|
Pemberian oral |
Efikasi lebih cepat
Efikasi maksimum
Efek bertahan lebih lama
Efek tak diinginkan minimum |
|
Efikasi lebih lambat
Efikasi minimum
Efek bertahan lebih singkat
Efek tak diinginkan maksimum |
Sekarang ini tingkat survival 5, 10, 15, 20, dan 25-
tahun adalah penting untuk pasien dengan Nefritis Lupus.
Kortikosteroid oral di samping memiliki efek tak
diinginkan baku, terbukti merusak ginjal secara
kumulatif setelah 15 tahun. Ini mungkin memiliki dampak
terhadap tingkat survival 20-tahun.
Efek tak diinginkan hematologis sangat jarang ditemui,
namun efek gastrointestinal ringan terjadi pada 25%
pasien yang diobati dengan JDP. Hal ini dapat dengan
mudah diatasi atau dicegah.
Email This Page
Print
This Page
|
|
| |
NEWS & EVENTS
LupusArthritisIndonesia.org - Indonesian Lupus & Arthritis Forum
16.11.2005
MabThera – a unique approach providing lasting
benefits for patients with rheumatoid arthritis
Comprehensive long-term clinical success achieved in
difficult-to-treat patients following just two
administrations, two weeks apart
›
more
|
|
 |
| |
LupusArthritisIndonesia.org - Indonesian Lupus & Arthritis Forum
06.09.2005
Roche files first rheumatoid arthritis indication for
MabThera in Europe
MabThera: a medicine used to treat non-Hodgkin's
lymphoma
MabThera delivers significant and sustained relief from
symptoms in patients with difficult-to-treat rheumatoid
arthritis.
›
more
|
|
 |
| |
LupusArthritisIndonesia.org - Indonesian Lupus & Arthritis Forum
06.04.2005
MabThera significantly improves symptoms in patients
with rheumatoid arthritis who inadequately responded to
anti-TNFα therapies
Third large randomised trial to evaluate efficacy and
safety of MabThera in RA
Roche, Genentech and Biogen Idec announced today that
REFLEX1, a pivotal Phase III study of MabThera (rituximab), successfully met its
primary endpoint in the group of patients with the most difficult-to-treat
rheumatoid arthritis (RA).
›
more
|
|
 |
Legal Disclamer
|
Legal Disclaimer
Copyright
©WHO-ILAR COPCORD Stage II Education on Treatment of the Autoimmune
Diseases.
This Web site was developed in 2005 as a service provided by the
WHO-ILAR COPCORD Stage II Education on Treatment of the Autoimmune
Diseases. This Web site provides selected information available
about lupus and arthritis. It is important that public see a
healthcare professional for detailed information about medical
conditions and treatment. This information is not intended to be a
substitute for the advice of a healthcare professional, or a
recommendation for any particular treatment plan. The WHO-ILAR
COPCORD Stage II Education on Treatment of the Autoimmune Diseases
has made and will continue to make efforts to include accurate and
up-to-date information on this Web site.
If you have any
questions, please contact us:
Webmaster
Phone: 62-24-8447-345
Fax: 62-24-8310-028
admin@LupusArthritisIndonesia.org
|
|